Senin, 23 September 2013

Suspensi Kloramfenikol


LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK FARMASI SEDIAAN LIQUID
PEMBUATAN SUSPENSI KLORAMFENIKOL









Disusun oleh :
Fitri Miftahul Janah





KELOMPOK 4 FARMASI 2B
PROGRAM STUDI S-1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2013
BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar  Belakang
Larutan ialah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, kecuali dinyatakan lain sebagai pelarut digunakan air suling.Pernyataan kelarutan berarti bahwa 1 g zat padat atau 1 ml zat cair tersebut larut dalam sejumlah ml pelarut
Kelarutan suatu zat harus selalu diketahui sebelum zat tersebut dilarutkan dengan sejumlah pelarut, untuk menjamin jumlah pelarut yang diberikan itu cukup untuk melarutkan. Misalnya bila zat A itu mudha larut dalam air, maka dibutuhkan minimal 1 – 10 ml air untuk melarutkan setiap 1 g zat tersebut sehingga bila zat yang akan dilarutkan sejumlah 2 gram maka sekurang- kurangnya 2-20 ml air yang diperlukan untuk melarutkan zat tersebut.
Melarutkan zat sebaiknya dilakukan didalam erlemyer (terlebih lagi bila zatnya mudah menguap harus dengan erlenmeyer bertutup) kecuali bila dibutuhkan pengadukan dan atau untuk mereaksikan suatu zat maka dapat dilakukan di beaker gelas atau lumpang.
Untuk larutan  sebelum dimasukkan kedalam wadah maka perlu disaring dengan penyaring kertas , namun bila zatnya oksidator maka dapat digunakan glass woll sebagai penyaring.
Namun, adakalnya terdapat obat yang tidak bisa larut dalam pelarut manapun. Untuk membuat sediaan bentuk larutan pada obat-obat seperti ini dalam pembuatan seediaan bentuk larutan kita kenal dengan istilah suspensi, sediaan bentuk larutan bagi obatyang tidak dapat larut tetapi hanya menghambat atau memperlamabat terjadinya endapan bahan aktifnya. Dalam pembuatannya ada aturan-aturannya tertentu yang berbeda dari sediaan solutio lainnya. Oleh karena itu perlu kita kietahui cara pembuatannya dan seperti apa suspensi itu.
Dalam bidang industri farmasi, perkembangan tekhnologi farmasi sangat  berperan aktif dalam peningkatan kualitas produksi obat-obatan. Hal ini banyak ditunjukkan dengan banyaknya  sediaan  obat-obatan  yang disesuaikan  dengan  karakteristik  dari  zat  aktif  obat, kondisi pasien dan penigkatan  kualitas  obat  dengan  meminimalkan  efek  samping  obat  tanpa harus  mengurangi  atau  mengganggu  dari  efek  farmakologis  zat  aktif obat.
Sekarang  ini  banyak  bentuk  sediaan  obat  yang  dijumpai di  pasaran  antara  lain: Dalam bentuk sediaan padat: pil, tablet, kapsul, suppositoria.
Dalam bentuk sediaan setengah padat: Krim, Salep. Dalam bentuk cair: Sirup, Eliksir, Suspensi, Emulsi dan lain-lain. Suspensi merupakan salah satu contoh dari bentuk sediaan cair yang secara umum dapat diartikan sebagai suatu system disperse kasar yang terdiri atas bahan padat tidak larut tetapi terdispersi merata ke dalam pembawanya. Bentuk suspense yang dipasarkan ada 2 macam, yaitu suspensi siap pakai atau suspensi cair yang langsung bisa diminum, dan suspensi yang dilarutkan terlebih dahulu ke dalam cairan pembawanya, suspensi bentuk ini digunakan untuk zat aktif yang kestabilannya dalam akhir kurang baik dan sebagai pembawa dari suspensi yaitu berupa air dan minyak. Alasan bahan obat diformulasikan dalam bentuk sediaan suspensi yaitu bahan obat mempunyai kelarutan yang kecil atau tidak larut dalam air, tetapi diperlukan dalam bentuk sediaan cair, mudah diberikan kepada pasien yang mengalami kesulitan untuk menelan, diberikan pada anak-anak, untuk menutupi rasa pahit atau aroma yang tidak enak pada bahan obat.
Sediaan dalam bentuk suspensi diterima baik oleh para konsumen dikarenakan penampilan baik itu dari segi warna ataupun bentuk wadahnya.Penggunaan dalam bentuk suspensi bila dibandingkan dengan larutan sangatlah efisien sebab suspensi dapat mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air.
Dengan demikian sangatlah penting bagi kita sebagai tenaga farmasis untuk mengetahui dan mempelajari pembuatan sediaan dalam bentuk suspensi yang sesuai dengan persyaratan suspensi yang ideal ataupun stabil agar selanjutnya dapat diterapakan pada pelayanan kefarmasian dalam kehidupan masyarakat.

B.     Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini adalah agar kita selaku tenaga farmasis dapat mengetahui cara pembuatan ataupun peracikan sediaan suspensi yang ideal dan stabil sehingga pengemasan dan penandaan (pemberian etiket) sesuai dengan persyaratan farmasetika.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Dasar Teori
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut, misal terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. (Anonim, 2004) Larutan merupakan sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, sebagai pelarut digunakan air suling, kecuali dinyatakan lain. (Anief, M, 2005)
Larutan terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan suatu cairan, maka zat padat tadi terbagi secara molekuler dalam cairan tersebut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu 20o, kecuali dinyatakan lain menunjukan 1 bagian bobot zat padat atau 1 bagian volume zat cair larut dalam bagian volume tertentu pelarut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu kamar. (Anief, M., 2005)
Karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata, maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik,  jika larutan diencerkan atau dicampur. (Anonim, 1995)
Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Sediaan yang digolongkan sebagai suspensi adalah sediaan seperti tersebut di atas dan tidak termasuk kelompok suspensi yang lebih spesifik, seperti suspensi oral, suspensi topikal, dan lainlain. Beberapa suspensi dapat langsung digunakan, sedangkan yang lain berupa sediaan padat yang harus dikonstitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan.
Suspensi topikal adalah sediaan cair mengandung partikel yang terdispersi dalam pembawa cair yang bertujuan untuk penggunaan pada kulit. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai lotio termasuk dalam golongan ini. (Anonim, 1995)
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus, tidak boleh cepat mengendap, dan bila digojok perlahanlahan, endapan harus segera terdispersi kembali. Dapat ditambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi tetapi kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah digojok dan dituang. Suspensi sering disebut pula mikstur gojog (mixtura agitandae). Bila obat dalam suhu kamar tidak larut dalam pelarut yang tersedia maka harus dibuat mikstur gojog atau disuspensi. (Anief, 2006)
Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah :
1. Ukuran partikel
Semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas penampangnya (dalam volume yang sama ). Sedangkan semakin besar luas penampang partikel daya tekan keatas cairan akan semakin memperlambat gerakan partikel untuk mengendap, sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel.
2. Kekentalan (viscositas)
Dengan menambah viscositas cairan maka gerakan turun dari partikel yang dikandungnya akan diperlambat. Tatapi perlu diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang.
3. Jumlah partikel (konsentrasi)
Makin besar konsentrasi pertikel, makin besar kemungkinan terjadi endapan partikel dalam waktu yang singkat.
4. Sifat / muatan partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari babarapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak selalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alam, maka kita tidak dapat mempengaruhinya. (Anonim, 2004 )

Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi
1. Metode pembuatan suspensi
 Metode dispersi
Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam mucilago yang telah terbentuk kmudian baru diencerkan.
      Metode praesipitasi
Zat yang hendak didispersi dilarutkan dahulu dalam pelarut organik yang hrndak dicampur dengan air. Setelah larut diencerkan dengan larutan pensuspensi dalam air.

2. Sistem pembentukan suspensi
 System flokulasi
1. partikel merupakan agregat yang bebas
2. sedimentasi terjadi capat
3. sediment terbentuk cepat
4.  sediment tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi kembali seperti semula
5.  wujud suspensi kurang menyenangkan sebab sedimentasi terjadi cepat dan diatasnya terjadi daerah cairan yang jernih dan nyata.
 System deflokulasi
1.  partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain
2.  sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing partikel mengendap terpisah dan ukuran partikel adalah minimal
3. sediment terbentuk lambat
4. akhirnya sediment akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi lagi.
 (Anonim, 2004)

Keuntugan sediaan suspensi antara lain sebagai berikut :
a. Bahan obat tidak larut dapat bekerja sebagai depo, yang dapat memperlambat terlepasnya obat.
b. Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk larutan. c.  Obat dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak dibandingkan dalam larutan, karena rasa obat yang tergantung kelarutannya.
Kerugian bentuk suspensi antara lain sebagai berikut :
a.  Rasa obat dalam larutan lebih jelas.
b. Tidak praktis bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain, misalnya pulveres, tablet, dan kapsul.
c.  Rentan terhadap degradasi dan kemungkinan terjadinya reaksi kimia antar kandungan dalam larutan di mana terdapat air sebagai katalisator .
( Anief, M., 1987 )



BAB III
Prosedur Kerja
A.    Alat dan bahan
1.      Alat
·         Mortir
·         Stamper
·         Gelas ukur 100 ml
·         Penangas air
·         Tabung sedimentasi
·         Botol reagen
·         Spatula
·         Sudip
2.      Bahan
·         Chloramphenicolum
·         Natrium CMC
·         Propilenglicol
·         Sirup apel
·         aquades
·         Formula
·         Tiap 5 ml mengandung
·         Chloramphenicol 1,5 g
·         Na CMC 1%
·         Propilenglikol 10%
·         Sirup apel 20%
·         Aquadest ad 60 ml


3.      Kajian Preformulasi
Zat aktif :Chloramfenicol
a.       Pemerian               : Hablur, halus, berbentuk jarum atau lempeng,
  memanjang, putih, atau putih kekuningan, tidak      
  berbau,rasa sangat pahit.
b.      Kelarutan              : Larut dalam lebih kurang 400 bagian air, dalam
  2,5 bagian etanol, sukar larut dalam kloroform
  P,dan eter P.
c.       Titik lebur              : Antara 149 dan 154 C
d.      pKa/pKb               : 5,52
e.       pH larutan            : Antara 4,5-7,5
f.       stabilitas                : Stabil pada suhu ruangan dan suhu tinggi dalam
  sediaan suspensi
g.      inkompatibilitas     : -
h.      Polimorfisme         : -

Zat akt tambahan : CMC-Na (Carboxy Methyl Cellulosum Natrium
a.       Pemerian               : Serbuk granul, putih, krem, higroskopik
b.      Kelarutan              : Mudah terdispersi dalam air (dalam berbagai  
  suhu), praktis tidak larut dalam  aseton, etanol, eter dan toluen.
c.       Titik lebur              : 2270C – 2520C
d.      pKa/pKb               : 4,3
e.       pH larutan            : 7-9
f.       Stabilitas               : Higroskopik dan dapat menyerap air pada    
  kelembapan tinggi
g.      Inkompatibilitas    : Inkompatibel dengan larutan asam kuat dan

  dengan larutan garam dari beberapa logam pengendapan terjadi pada pH 2 dan pada saat    pencampuran
h.      Polimorfisme         : -

Zat akt tambahan : Propylenglykol
a.       Pemerian               : Cairan kental, jenuh, tidak berwarna, tidak berbau
b.         Kelarutan             :Dapat campur dengan etanol (95%)P, dengan     
 dalam 6 bagian eter P
c.       Titik lebur              : 990C
d.      pKa/pKb               : 7,2
e.       pH larutan            : 6,2-6,9
f.       Stabilitas               : Stabil pada suhu dingin dan tempat tertutup,
   higroskopik harus disimpan ditempat yang tidak
  terkena matahari
g.      Inkompatibilitas    : Inkompatibel dengan reagen
h.      Polimorfisme         : -

Zat akt tambahan : Aquadest
a.         Pemerian              :  Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau,  tidak berasa
b.         Kelarutan             : -
c.         Titik lebur             :  1000C
d.        pKa/pKb              : -
e.         pH larutan                       : 7
f.          Stabilitas              : Stabil diudara
g.         Inkompatibilitas   : -
h.         Polimorfisme        : -








Perhitungan Bahan  :

1.      Klorampenikol            : 1,5 gram
2.      Cmc                             :  x 60 = 0,6 gram
3.      Air untuk cmc             : 20 x 0,6 = 12 ml
4.      Propilenglykol             :  x 60 = 6gram
5.      Sirup apel                    : x 60 = 12 ml
6.      Aquadest                     ad  60ml






















4.      Bagan Prosedur Kerja
Siapkan alat dan bahan
 
 


Timbang masing-masing bahan :
Chloramphenicol 8,613 g
Na CMC 1,98 g
Propilenglikol 19,8 g
Sirup Apel 39,6 g
Aquades pro Na CMC 39,8 g

 







 




















Tuangkan isi mortir I kedalam mortir II gerus sampai homogen

 
       

 









 

BAB IV
HASIL PENGAMATAN


KELOMPOK 1


Kelompok 1

Fomulasi
Volume
Terpindahkan


Kecepatan Redispersi
Volume
Sedimentasi
Waktu
F (pembentukan sedimentasi)
CMC-Na               1%
60 ml
1 detik
10 menit
1
Propilenglikol     10%
60 ml
1 detik
20 menit
0,99
Syr. simplex        20%
59 ml
3 detik
30 menit
0,99
Perasa anggur    q.s
58 ml
4 detik
60 menit
0,97
Aqua  ad              60 ml
56 ml
5 detik
120 menit
0,97



Hari 1
0,97



Hari 3
0,98

KELOMPOK 2

Fomulasi

Volume  Terpindahan


Kecepatan Redispersi
Volume
 Sedimentasi

Waktu
F (pembentukan sedimentasi)
PGS                      1%
60 ml
1 detik
10 menit
0,98
Propilenglikol     20%
59 ml
2 detik
20 menit
0,97
Syr. simplex        30%
59 ml
2 detik
30 menit
0,9
Ol. apple              q.s
59 ml
3 detik
60 menit
0,9
Briliant Green     q.s
59 ml
5 detik
120 menit
0,9
Aqua  ad              60 ml


Hari 1
0,9



Hari 3
0,9






KELOMPOK 3

Fomulasi

Volume  Terpindahan


Kecepatan Redispersi
Volume
 Sedimentasi

Waktu
F (pembentukan sedimentasi)
CMC-Na                 1%


58
1 detik
10 menit
0,99
Propilenglikol       20%
1 detik
20 menit
0,98
Syr. simplex          30%
3 detik
30 menit
0,98
Ol. lemon              1%
4 detik
60 menit
0,98
Aqua  ad               60 ml
5 detik
120 menit
0,98


Hari 1
0,8



Hari 3
0,8


KELOMPOK 4

Fomulasi

Volume  Terpindahan


Kecepatan Redispersi
Volume
 Sedimentasi

waktu
F (pembentukan sedimentasi)
CMC-Na                1%
60 ml
1,02 detik
10 menit
0,97
Propilenglikol      10%
60 ml
1,57 detik
20 menit
0,83
Syr. apel               20%
58 ml
2,27 detik
30 menit
0,83
Aqua  ad              60 ml
58 ml
3,04 detik
60 menit
0,83

57 ml
4,97 detik
120 menit
0,83

57 ml
5,54 detik
Hari 1
0,83



Hari 3
0,83


KELOMPOK 5

Fomulasi

Volume  Terpindahan


Kecepatan Redispersi
Volume
 Sedimentasi

waktu
F (pembentukan sedimentasi)
CMC-Na               0,5%
58 ml
9,83 detik
10 menit
0,98
Propilenglikol     20%
58 ml
6,83 detik
20 menit
0,98
Sorbitol                40%
56 ml
9,87 detik
30 menit
0,98
Nipagin                 0,01%
56 ml
9,57 detik
60 menit
0,91
Ol. apel                 q.s
56 ml
9,34 detik
120 menit
0,83
Aqua  ad              60 ml


Hari 1
0,60



Hari 3
0,58



KELOMPOK 6

Fomulasi

Vol. Terpindahkan

Kecepatan Redispersi
Volume
Sedimentasi
Waktu
F (pembentukan sedimentasi)
PGS                     1%
60 ml
3,20 detik
10 menit
0,97
Gliserin              10%
59 ml
7,28 detik
20 menit
0,91
Syr. simplex       20%
59 ml
7,34 detik
30 menit
0,91
Eter citrus          2 gtt
59 ml
8,20 detik
60 menit
0,86
Aqua  ad             60 ml
58 ml
8,40 detik
120 menit
0,86



Hari 1
0,86



Hari 3
0,86







BAB VI
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Obat dibuat suspensi karena obat – obat tertentu tidak stabil secara kimia, bila ada dalam larutan tapi stabil bila dibuat dalam bentuk suspensi, dan jika ada bahan obat yang tidak dapat larut. Faktor yang mempengaruhi kestabilan suspensi :Pengecilan ukuran  partikel dari suatu suspensoid berguna untuk kestabilan suspensi karena laju endap dari partikel padat berkurang jika ukuran partikel diperkecil. Selain itu jumlah bahan pensuspensi jangan terlalu sedikit dan jangan terlalu banyak karena mempengaruhi kestabilan cairan tersebut.  Sedikit banyaknya pergerakan partikel, tolak menolak antar partikel karena adanya muatan listrik pada partikel, dan  konsentrasi suspensoid   juga dapat mempengaruhi. Suspending agent yang terlalu banyak (CMC) menyebabkan daya alir kurang baik karena terlalu kental, pada penyimpanan dengan suhu rendah dapat terbentuk cacking yang keras sehingga sulit dituang. Formula yang digunakan adalah formula no.II dengan metode pembuatan dispersi. Semakin kecil partikel, luas permukaannya akan semakin besar dan suspensi akan lama mengendap atau sebaliknya semakin besar partikel, luas permukaan akan semakin kecil dan menyebabkan suspensi akan cepat mengendap. Dari pengamatan yang kami peroleh :
1.      Endapan suspensi setinggi 10 mL.
2.       Kemungkinan kehilangan volume cairan ketika penuangan yaitu 3%,.
3.      Nilai F yaitu.....

B.     Saran
Penambahan zat tambahan yang harus di perhatikan agar dapat menjadikan suspensi lebih bagus.




Daftar Pustaka
Anief M., 2000, Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek, UGM Press, Yogyakarta.
Anief M., 1987, Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek, UGM Press, Yogyakarta.
Anonim, 1979,  Farmakope Indonesia,  III, Departemen Kesehatan Republik
          Indonesia, Jakarta.
Anonim, 1995,  Farmakope Indonesia,  IV, Departemen Kesehatan Republik
          Indonesia, Jakarta.