LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK FARMASI SEDIAAN
LIQUID
PEMBUATAN SUSPENSI KLORAMFENIKOL
Disusun oleh :
Fitri Miftahul Janah
KELOMPOK 4 FARMASI 2B
PROGRAM STUDI S-1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAKTI
TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Larutan ialah sediaan cair yang
mengandung bahan kimia terlarut, kecuali dinyatakan lain sebagai pelarut
digunakan air suling.Pernyataan kelarutan berarti bahwa 1 g zat padat atau 1 ml
zat cair tersebut larut dalam sejumlah ml pelarut
Kelarutan suatu zat harus selalu
diketahui sebelum zat tersebut dilarutkan dengan sejumlah pelarut, untuk
menjamin jumlah pelarut yang diberikan itu cukup untuk melarutkan. Misalnya bila zat A itu mudha larut
dalam air, maka dibutuhkan minimal 1 – 10 ml air untuk melarutkan setiap 1 g
zat tersebut sehingga bila zat yang akan dilarutkan sejumlah 2 gram maka
sekurang- kurangnya 2-20 ml air yang diperlukan untuk melarutkan zat tersebut.
Melarutkan zat sebaiknya
dilakukan didalam erlemyer (terlebih lagi bila zatnya mudah menguap harus
dengan erlenmeyer bertutup) kecuali bila dibutuhkan pengadukan dan atau untuk
mereaksikan suatu zat maka dapat dilakukan di beaker gelas atau lumpang.
Untuk larutan sebelum
dimasukkan kedalam wadah maka perlu disaring dengan penyaring kertas , namun
bila zatnya oksidator maka dapat digunakan glass woll sebagai penyaring.
Namun, adakalnya terdapat obat
yang tidak bisa larut dalam pelarut manapun. Untuk membuat sediaan bentuk
larutan pada obat-obat seperti ini dalam pembuatan seediaan bentuk larutan kita
kenal dengan istilah suspensi, sediaan bentuk larutan bagi obatyang tidak dapat
larut tetapi hanya menghambat atau memperlamabat terjadinya endapan bahan
aktifnya. Dalam pembuatannya ada aturan-aturannya tertentu yang berbeda dari
sediaan solutio lainnya. Oleh karena itu perlu kita kietahui cara pembuatannya
dan seperti apa suspensi itu.
Dalam bidang industri farmasi, perkembangan tekhnologi farmasi
sangat berperan aktif dalam peningkatan
kualitas produksi obat-obatan. Hal ini banyak ditunjukkan dengan banyaknya
sediaan obat-obatan yang disesuaikan dengan karakteristik
dari zat aktif obat, kondisi pasien dan penigkatan
kualitas obat dengan meminimalkan efek
samping obat tanpa harus mengurangi atau
mengganggu dari efek farmakologis zat aktif
obat.
Sekarang ini banyak
bentuk sediaan obat yang dijumpai di pasaran
antara lain: Dalam bentuk sediaan padat: pil,
tablet, kapsul, suppositoria.
Dalam bentuk sediaan setengah padat:
Krim, Salep. Dalam bentuk cair: Sirup, Eliksir, Suspensi, Emulsi dan lain-lain. Suspensi merupakan salah satu contoh dari bentuk sediaan cair yang secara umum dapat diartikan sebagai suatu system disperse kasar yang terdiri atas bahan padat tidak larut tetapi terdispersi merata ke dalam pembawanya. Bentuk suspense yang dipasarkan ada
2 macam, yaitu suspensi siap pakai atau suspensi cair yang langsung bisa diminum, dan suspensi yang dilarutkan terlebih dahulu ke dalam cairan pembawanya, suspensi bentuk ini digunakan untuk zat aktif yang kestabilannya dalam akhir kurang baik dan sebagai pembawa
dari suspensi yaitu berupa air dan minyak. Alasan bahan obat diformulasikan
dalam bentuk sediaan suspensi yaitu bahan obat mempunyai kelarutan yang kecil
atau tidak larut dalam air, tetapi diperlukan dalam bentuk sediaan cair, mudah diberikan
kepada pasien yang mengalami kesulitan untuk menelan, diberikan pada anak-anak,
untuk menutupi rasa pahit atau aroma yang tidak enak pada bahan obat.
Sediaan dalam bentuk suspensi diterima baik oleh para konsumen dikarenakan penampilan baik itu dari segi warna ataupun bentuk wadahnya.Penggunaan dalam bentuk suspensi bila dibandingkan dengan larutan sangatlah efisien sebab suspensi dapat mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air.
Dengan demikian sangatlah penting bagi kita sebagai tenaga farmasis untuk mengetahui dan mempelajari pembuatan sediaan dalam bentuk suspensi yang sesuai dengan persyaratan
suspensi yang ideal ataupun stabil agar selanjutnya dapat diterapakan pada pelayanan kefarmasian dalam kehidupan masyarakat.
B.
Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini adalah agar kita selaku tenaga farmasis dapat mengetahui cara pembuatan ataupun peracikan sediaan suspensi yang ideal dan
stabil sehingga pengemasan dan penandaan (pemberian etiket) sesuai dengan persyaratan farmasetika.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Dasar Teori
Larutan
adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut,
misal terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran
pelarut yang saling bercampur. (Anonim, 2004) Larutan merupakan sediaan cair
yang mengandung bahan kimia terlarut, sebagai pelarut digunakan air suling,
kecuali dinyatakan lain. (Anief, M, 2005)
Larutan
terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan suatu cairan, maka zat
padat tadi terbagi secara molekuler dalam cairan tersebut. Pernyataan kelarutan
zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu 20o, kecuali
dinyatakan lain menunjukan 1 bagian bobot zat padat atau 1 bagian volume zat
cair larut dalam bagian volume tertentu pelarut. Pernyataan kelarutan zat dalam
bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu kamar. (Anief, M., 2005)
Karena
molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata, maka penggunaan
larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis
dan memiliki ketelitian yang baik, jika
larutan diencerkan atau dicampur. (Anonim, 1995)
Suspensi
adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi
dalam fase cair. Sediaan yang digolongkan sebagai suspensi
adalah sediaan seperti tersebut di atas dan tidak termasuk kelompok suspensi yang lebih spesifik, seperti suspensi oral,
suspensi topikal, dan lainlain. Beberapa suspensi dapat langsung digunakan,
sedangkan yang lain berupa sediaan padat yang harus dikonstitusikan terlebih
dahulu dengan pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan.
Suspensi
topikal adalah sediaan cair mengandung partikel yang terdispersi dalam pembawa cair yang bertujuan untuk
penggunaan pada kulit. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai lotio
termasuk dalam golongan ini. (Anonim, 1995)
Suspensi
adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak
larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus, tidak boleh cepat mengendap,
dan bila digojok perlahanlahan, endapan harus segera terdispersi kembali. Dapat
ditambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi tetapi kekentalan
suspensi harus menjamin sediaan mudah digojok dan dituang. Suspensi sering disebut pula mikstur gojog (mixtura
agitandae). Bila obat dalam suhu kamar tidak larut dalam pelarut yang tersedia
maka harus dibuat mikstur gojog atau disuspensi. (Anief, 2006)
Beberapa
faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah :
1.
Ukuran partikel
Semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas
penampangnya (dalam volume yang sama ). Sedangkan semakin besar
luas penampang partikel daya tekan keatas cairan akan
semakin memperlambat gerakan partikel untuk mengendap, sehingga untuk
memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan
memperkecil ukuran partikel.
2.
Kekentalan (viscositas)
Dengan menambah viscositas cairan maka gerakan turun
dari partikel yang dikandungnya akan diperlambat. Tatapi perlu
diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah
dikocok dan dituang.
3.
Jumlah partikel (konsentrasi)
Makin besar konsentrasi pertikel, makin besar
kemungkinan terjadi
endapan partikel dalam waktu yang
singkat.
4.
Sifat / muatan partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari
babarapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak selalu sama. Dengan demikian
ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan
yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah
merupakan sifat alam, maka kita tidak dapat mempengaruhinya. (Anonim, 2004 )
Cara
Mengerjakan Obat Dalam Suspensi
1.
Metode pembuatan suspensi
Metode dispersi
Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam
mucilago yang telah terbentuk kmudian baru diencerkan.
Metode praesipitasi
Zat yang hendak didispersi dilarutkan dahulu dalam
pelarut organik yang hrndak dicampur dengan air. Setelah larut diencerkan
dengan larutan pensuspensi dalam air.
2.
Sistem pembentukan suspensi
System flokulasi
1. partikel merupakan agregat yang bebas
2. sedimentasi terjadi capat
3. sediment terbentuk cepat
4. sediment tidak membentuk cake yang keras dan padat dan
mudah terdispersi kembali seperti semula
5. wujud suspensi kurang menyenangkan sebab sedimentasi
terjadi cepat dan diatasnya terjadi daerah cairan yang jernih dan nyata.
System deflokulasi
1. partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan
yang lain
2. sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing partikel
mengendap terpisah dan ukuran partikel adalah minimal
3. sediment terbentuk lambat
4. akhirnya sediment akan membentuk
cake yang keras dan sukar terdispersi lagi.
(Anonim,
2004)
Keuntugan sediaan suspensi antara lain sebagai berikut
:
a. Bahan obat tidak larut dapat bekerja sebagai depo,
yang dapat memperlambat terlepasnya obat.
b. Beberapa bahan obat tidak stabil
jika tersedia dalam bentuk larutan. c.
Obat dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak
dibandingkan dalam larutan, karena rasa obat yang tergantung kelarutannya.
Kerugian
bentuk suspensi antara lain sebagai berikut :
a. Rasa obat
dalam larutan lebih jelas.
b. Tidak praktis bila dibandingkan dalam bentuk
sediaan lain, misalnya pulveres, tablet, dan kapsul.
c. Rentan
terhadap degradasi dan kemungkinan terjadinya reaksi kimia antar kandungan
dalam larutan di mana terdapat air sebagai katalisator .
(
Anief, M., 1987 )
BAB III
Prosedur Kerja
A. Alat dan bahan
1. Alat
·
Mortir
·
Stamper
·
Gelas ukur 100 ml
·
Penangas air
·
Tabung sedimentasi
·
Botol reagen
·
Spatula
·
Sudip
2. Bahan
·
Chloramphenicolum
·
Natrium CMC
·
Propilenglicol
·
Sirup apel
·
aquades
·
Formula
·
Tiap 5 ml mengandung
·
Chloramphenicol 1,5 g
·
Na CMC 1%
·
Propilenglikol 10%
·
Sirup apel 20%
·
Aquadest ad 60 ml
3. Kajian Preformulasi
Zat aktif :Chloramfenicol
a.
Pemerian :
Hablur, halus, berbentuk jarum atau lempeng,
memanjang, putih, atau putih
kekuningan, tidak
berbau,rasa sangat pahit.
b.
Kelarutan :
Larut dalam lebih kurang 400 bagian air, dalam
2,5 bagian etanol, sukar larut
dalam kloroform
P,dan eter P.
c.
Titik lebur :
Antara 149 dan 154 C
d.
pKa/pKb :
5,52
e.
pH larutan : Antara 4,5-7,5
f.
stabilitas :
Stabil pada suhu ruangan dan suhu tinggi dalam
sediaan suspensi
g.
inkompatibilitas :
-
h.
Polimorfisme :
-
Zat akt tambahan : CMC-Na (Carboxy Methyl Cellulosum Natrium
a.
Pemerian :
Serbuk granul, putih, krem, higroskopik
b.
Kelarutan :
Mudah terdispersi dalam air (dalam berbagai
suhu), praktis tidak larut dalam aseton, etanol, eter dan toluen.
c.
Titik lebur :
2270C – 2520C
d.
pKa/pKb :
4,3
e.
pH larutan : 7-9
f.
Stabilitas :
Higroskopik dan dapat menyerap air pada
kelembapan tinggi
g.
Inkompatibilitas :
Inkompatibel dengan larutan asam kuat dan
dengan larutan garam dari
beberapa logam pengendapan terjadi pada pH 2 dan pada saat pencampuran
h.
Polimorfisme :
-
Zat akt tambahan : Propylenglykol
a.
Pemerian :
Cairan kental, jenuh, tidak berwarna, tidak berbau
b.
Kelarutan :Dapat
campur dengan etanol (95%)P, dengan
dalam 6
bagian eter P
c.
Titik lebur :
990C
d.
pKa/pKb :
7,2
e.
pH larutan : 6,2-6,9
f.
Stabilitas :
Stabil pada suhu dingin dan tempat tertutup,
higroskopik harus disimpan ditempat yang tidak
terkena matahari
g.
Inkompatibilitas :
Inkompatibel dengan reagen
h.
Polimorfisme :
-
Zat akt tambahan : Aquadest
a.
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak
berbau, tidak berasa
b.
Kelarutan :
-
c.
Titik lebur : 1000C
d.
pKa/pKb :
-
e.
pH larutan
: 7
f.
Stabilitas :
Stabil diudara
g.
Inkompatibilitas :
-
h.
Polimorfisme :
-
Perhitungan Bahan :
1.
Klorampenikol :
1,5 gram
2.
Cmc :
x 60 = 0,6 gram
3.
Air untuk cmc :
20 x 0,6 = 12 ml
4.
Propilenglykol :
x 60 = 6gram
5.
Sirup apel :
x 60 = 12 ml
6.
Aquadest
ad 60ml
4.
Bagan
Prosedur Kerja
|
|

|
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
|
KELOMPOK 1
Kelompok 1
|
Fomulasi
|
Volume
Terpindahkan
|
Kecepatan Redispersi
|
Volume
Sedimentasi
|
|
|
Waktu
|
F (pembentukan sedimentasi)
|
||||
|
CMC-Na 1%
|
60
ml
|
1
detik
|
10
menit
|
1
|
|
|
Propilenglikol 10%
|
60
ml
|
1
detik
|
20
menit
|
0,99
|
|
|
Syr.
simplex 20%
|
59
ml
|
3
detik
|
30
menit
|
0,99
|
|
|
Perasa
anggur q.s
|
58
ml
|
4
detik
|
60
menit
|
0,97
|
|
|
Aqua ad 60 ml
|
56
ml
|
5
detik
|
120
menit
|
0,97
|
|
|
|
|
|
Hari
1
|
0,97
|
|
|
|
|
|
Hari
3
|
0,98
|
|
|
KELOMPOK 2
|
Fomulasi
|
Volume Terpindahan
|
Kecepatan Redispersi
|
Volume
Sedimentasi
|
|
|
Waktu
|
F (pembentukan sedimentasi)
|
||||
|
PGS 1%
|
60 ml
|
1 detik
|
10 menit
|
0,98
|
|
|
Propilenglikol 20%
|
59 ml
|
2 detik
|
20 menit
|
0,97
|
|
|
Syr. simplex 30%
|
59 ml
|
2 detik
|
30 menit
|
0,9
|
|
|
Ol. apple q.s
|
59 ml
|
3 detik
|
60 menit
|
0,9
|
|
|
Briliant Green q.s
|
59 ml
|
5 detik
|
120 menit
|
0,9
|
|
|
Aqua
ad 60 ml
|
|
|
Hari 1
|
0,9
|
|
|
|
|
|
Hari 3
|
0,9
|
|
|
KELOMPOK 3
|
Fomulasi
|
Volume Terpindahan
|
Kecepatan Redispersi
|
Volume
Sedimentasi
|
|
|
Waktu
|
F (pembentukan sedimentasi)
|
||||
|
CMC-Na 1%
|
58
|
1 detik
|
10 menit
|
0,99
|
|
|
Propilenglikol 20%
|
1 detik
|
20 menit
|
0,98
|
||
|
Syr. simplex 30%
|
3 detik
|
30 menit
|
0,98
|
||
|
Ol. lemon 1%
|
4 detik
|
60 menit
|
0,98
|
||
|
Aqua
ad 60 ml
|
5 detik
|
120 menit
|
0,98
|
||
|
|
|
Hari 1
|
0,8
|
||
|
|
|
|
Hari 3
|
0,8
|
|
|
KELOMPOK 4
|
Fomulasi
|
Volume Terpindahan
|
Kecepatan
Redispersi
|
Volume
Sedimentasi
|
|
|
waktu
|
F
(pembentukan sedimentasi)
|
||||
|
CMC-Na 1%
|
60
ml
|
1,02
detik
|
10
menit
|
0,97
|
|
|
Propilenglikol 10%
|
60
ml
|
1,57
detik
|
20
menit
|
0,83
|
|
|
Syr.
apel 20%
|
58
ml
|
2,27
detik
|
30
menit
|
0,83
|
|
|
Aqua ad 60 ml
|
58
ml
|
3,04
detik
|
60
menit
|
0,83
|
|
|
|
57
ml
|
4,97
detik
|
120
menit
|
0,83
|
|
|
|
57
ml
|
5,54
detik
|
Hari
1
|
0,83
|
|
|
|
|
|
Hari
3
|
0,83
|
|
|
KELOMPOK
5
|
Fomulasi
|
Volume Terpindahan
|
Kecepatan Redispersi
|
Volume
Sedimentasi
|
|
|
waktu
|
F (pembentukan sedimentasi)
|
||||
|
CMC-Na 0,5%
|
58 ml
|
9,83 detik
|
10 menit
|
0,98
|
|
|
Propilenglikol 20%
|
58 ml
|
6,83 detik
|
20 menit
|
0,98
|
|
|
Sorbitol 40%
|
56 ml
|
9,87 detik
|
30 menit
|
0,98
|
|
|
Nipagin 0,01%
|
56 ml
|
9,57 detik
|
60 menit
|
0,91
|
|
|
Ol. apel q.s
|
56 ml
|
9,34 detik
|
120 menit
|
0,83
|
|
|
Aqua
ad 60 ml
|
|
|
Hari 1
|
0,60
|
|
|
|
|
|
Hari 3
|
0,58
|
|
|
KELOMPOK 6
|
Fomulasi
|
Vol. Terpindahkan
|
Kecepatan Redispersi
|
Volume
Sedimentasi
|
|
|
Waktu
|
F (pembentukan
sedimentasi)
|
||||
|
PGS 1%
|
60 ml
|
3,20 detik
|
10 menit
|
0,97
|
|
|
Gliserin 10%
|
59 ml
|
7,28 detik
|
20 menit
|
0,91
|
|
|
Syr. simplex 20%
|
59 ml
|
7,34 detik
|
30 menit
|
0,91
|
|
|
Eter citrus 2 gtt
|
59 ml
|
8,20 detik
|
60 menit
|
0,86
|
|
|
Aqua
ad 60 ml
|
58 ml
|
8,40 detik
|
120 menit
|
0,86
|
|
|
|
|
|
Hari 1
|
0,86
|
|
|
|
|
|
Hari 3
|
0,86
|
|
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Obat dibuat suspensi
karena obat – obat tertentu tidak stabil secara kimia, bila ada dalam larutan
tapi stabil bila dibuat dalam bentuk suspensi, dan jika ada bahan obat yang
tidak dapat larut. Faktor yang mempengaruhi kestabilan suspensi :Pengecilan
ukuran partikel dari suatu suspensoid
berguna untuk kestabilan suspensi karena laju endap dari partikel padat
berkurang jika ukuran partikel diperkecil. Selain itu jumlah bahan pensuspensi
jangan terlalu sedikit dan jangan terlalu banyak karena mempengaruhi kestabilan
cairan tersebut. Sedikit banyaknya
pergerakan partikel, tolak menolak antar partikel karena adanya muatan listrik
pada partikel, dan konsentrasi
suspensoid juga dapat mempengaruhi. Suspending
agent yang terlalu banyak (CMC) menyebabkan daya alir kurang baik karena
terlalu kental, pada penyimpanan dengan suhu rendah dapat terbentuk cacking yang keras sehingga sulit
dituang. Formula yang digunakan adalah formula no.II dengan metode pembuatan
dispersi. Semakin kecil partikel, luas permukaannya akan semakin besar dan
suspensi akan lama mengendap atau sebaliknya semakin besar partikel, luas
permukaan akan semakin kecil dan menyebabkan suspensi akan cepat mengendap. Dari
pengamatan yang kami peroleh :
1.
Endapan suspensi
setinggi 10 mL.
2.
Kemungkinan kehilangan volume cairan ketika
penuangan yaitu 3%,.
3.
Nilai F yaitu.....
B. Saran
Penambahan zat tambahan yang
harus di perhatikan agar dapat menjadikan suspensi lebih bagus.
Daftar Pustaka
Anief M., 2000, Ilmu Meracik
Obat Teori dan Praktek, UGM Press, Yogyakarta.
Anief M., 1987, Ilmu Meracik
Obat Teori dan Praktek, UGM Press, Yogyakarta.
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, III, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.